Kembali SahabatLokal Sitaro

Berita

Gunting yang Membawa Pulang Sebuah Nama

Gunting yang Membawa Pulang Sebuah Nama

Gunting yang Membawa Pulang Sebuah Nama Pagi itu, suara gunting terdengar dari sebuah rumah sederhana di tepi kampung. Cekrek. Rambut jatuh ke lantai. Cekrek. Sedikit demi sedikit, kepala seseorang berubah bentuk. Tidak ada salon besar. Tidak ada kursi mahal. Tidak ada cermin dengan lampu yang mengelilinginya. Hanya sebuah kursi, sebuah cermin, sepasang gunting, sisir, dan tangan yang sudah terbiasa bekerja. Anak muda itu memegang gunting dengan tenang. Ia tahu bagaimana mengarahkannya. Ia tahu kapan harus memotong. Ia tahu kapan harus berhenti. Bakat itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi dirinya... gunting itu adalah jalan hidup. Ia adalah anak pulau. Sejak kecil, laut menjadi bagian dari pemandangannya. Ia tumbuh bersama suara ombak. Mengenal angin dari arah datangnya. Mengenal perahu dari bentuknya. Mengenal pelabuhan dari suara mesin kapal yang terkadang terdengar sebelum matahari benar-benar tinggi. Tetapi hidup tidak selalu memberi seseorang kesempatan untuk tinggal di tempat yang dicintainya. Pulau memang indah. Namun keindahan tidak selalu berarti kehidupan mudah. Ada kebutuhan yang harus dibayar. Ada keluarga yang harus dibantu. Ada masa depan yang harus dipikirkan. Dan ada sebuah pertanyaan yang diam-diam tumbuh dalam kepala: “Kalau saya tetap di sini, sampai kapan saya bisa bertahan?” Maka ia melihat gunting di tangannya. Sebuah benda kecil. Tetapi mungkin... cukup untuk membawanya pergi. Di kampung, ia memotong rambut siapa saja. Tetangga. Teman. Orang tua. Anak muda. Siapa pun yang datang, ia layani. Kadang dibayar. Kadang tidak. Kadang hanya diberi uang secukupnya. Kadang dibayar dengan kopi. Kadang dengan makanan. Kadang hanya dengan ucapan: “Terima kasih, sudah bagus.” Ia tidak pernah menghitung semua itu sebagai kerugian. Karena setiap kepala yang selesai ia rapikan adalah latihan. Setiap helai rambut yang jatuh adalah pengalaman. Setiap orang yang duduk di kursinya menjadi bagian dari perjalanan. Sampai suatu hari ia mulai menyadari: gunting di tangannya sudah lebih tajam daripada rasa takutnya. Kemudian datanglah hari ketika ia harus pergi. Bukan karena ia membenci kampung. Bukan karena ia tidak mencintai laut. Bukan karena ia malu menjadi anak pulau. Ia pergi karena hidup meminta lebih banyak darinya. Ia ingin menyambung hidup. Mungkin mencari pekerjaan. Mungkin mencari pelanggan yang lebih banyak. Mungkin mengumpulkan modal. Mungkin ingin suatu hari memiliki tempat sendiri. Sebuah tempat di mana ia tidak lagi hanya memotong rambut di rumah orang. Ia ingin membuka pintu sebuah tempat kecil dan menulis namanya sendiri di sana. Tetapi sebelum semua itu terjadi... ia harus meninggalkan pulau. Hari keberangkatan tiba. Sebuah kapal menunggu di pelabuhan. Orang-orang membawa tas. Ada yang membawa kardus. Ada yang membawa pakaian. Ada yang membawa oleh-oleh. Dan di antara semua barang itu, ia hanya membawa beberapa pakaian dan perlengkapan kerjanya. Gunting. Sisir. Alat cukur. Beberapa peralatan sederhana. Barang-barang yang bagi orang lain mungkin terlihat biasa. Tetapi bagi dirinya... itulah modal. Itulah harapan. Itulah bekal untuk melawan ketidakpastian. Ia menaiki kapal. Kemudian berdiri di sisi kapal. Perlahan kampung mulai menjauh. Rumah-rumah mengecil. Pelabuhan semakin kecil. Pohon-pohon kelapa terlihat seperti garis-garis tipis. Dan laut... laut tetap seperti biasa. Tidak menahannya. Tidak memintanya tinggal. Laut hanya mengantarkan. Mungkin begitulah laut memperlakukan anak-anaknya. Ia membesarkan mereka. Memberi mereka ruang untuk tumbuh. Mengajarkan keberanian melalui ombak. Mengajarkan kesabaran melalui angin. Mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan dapat dilakukan ketika cuaca sedang baik. Kemudian ketika waktunya tiba... laut membiarkan mereka pergi. Ada yang pergi mencari ilmu. Ada yang pergi bekerja. Ada yang pergi berdagang. Ada yang pergi mencari kehidupan. Dan ada yang pergi hanya dengan satu harapan sederhana: pulang suatu hari nanti dalam keadaan lebih baik. Di tempat baru, tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada tetangga yang tahu siapa dirinya. Tidak ada teman lama yang datang membawa kepala untuk dirapikan. Tidak ada orang yang mengenalnya hanya dengan suara gunting. Ia kembali menjadi seseorang yang harus memperkenalkan dirinya dari awal. Maka ia membuka tas. Mengambil gunting. Membersihkannya. Kemudian menunggu. Satu orang datang. Ia potong rambutnya. Orang itu membayar. Kemudian datang orang berikutnya. Kemudian berikutnya. Hari berganti. Minggu berganti. Bulan berganti. Perlahan orang mulai mengenalnya. Bukan karena ia anak pulau. Bukan karena ia memiliki keluarga besar. Bukan karena ia mempunyai nama terkenal. Tetapi karena satu hal: tangannya memang bisa bekerja. Dari situlah ia belajar sesuatu. Di dunia perantauan, asal-usul kita tidak selalu menjadi hal pertama yang ditanyakan. Orang tidak terlalu peduli dari pulau mana kita datang. Mereka tidak selalu tahu kampung mana tempat kita dibesarkan. Mereka hanya ingin tahu: “Apa yang bisa kamu lakukan?” Dan ia menjawabnya tanpa banyak bicara. Dengan gunting. Dengan kerja. Dengan kesabaran. Dengan hasil. Setiap kali rambut seseorang jatuh ke lantai, ia seperti sedang memotong sedikit demi sedikit jarak antara dirinya dan kehidupan yang ia impikan. Tetapi setiap kali suara gunting berhenti... ia teringat kampung. Ada sesuatu tentang bunyi gunting yang ternyata berbeda ketika didengar jauh dari rumah. Cekrek. Ia teringat suara ombak. Cekrek. Ia teringat pelabuhan. Cekrek. Ia teringat seseorang di rumah yang mungkin sedang menunggunya pulang. Cekrek. Ia teringat laut. Ternyata merantau bukan hanya tentang meninggalkan tempat. Merantau adalah membawa tempat itu ke mana pun kita pergi. Pulau itu tidak lagi berada di bawah kakinya. Tetapi tetap tinggal di dalam dirinya. Waktu berjalan. Suatu hari ia berdiri di depan cermin. Melihat dirinya sendiri. Gunting masih di tangannya. Tangannya sedikit lebih kasar. Pengalamannya jauh lebih banyak. Dan mungkin, uang yang dahulu terasa sulit kini mulai bisa disisihkan. Ia akhirnya mengerti: ia tidak pergi untuk meninggalkan kampung. Ia pergi agar suatu hari bisa kembali dengan sesuatu yang dapat dibawa pulang. Bukan sekadar uang. Tetapi pengalaman. Keterampilan. Keberanian. Dan sebuah cerita. Mungkin suatu hari nanti, ia akan kembali menaiki kapal yang sama. Tetapi kali ini bukan sebagai seseorang yang pergi mencari kehidupan. Ia kembali sebagai seseorang yang telah menemukan sebagian dari dirinya. Kapal akan kembali membawanya mendekati pulau. Gunung akan mulai terlihat. Pohon kelapa muncul di kejauhan. Rumah-rumah perlahan membesar. Pelabuhan mulai tampak. Dan mungkin ketika kakinya kembali menginjak tanah kampung... ia akan membuka tasnya. Mengeluarkan gunting yang sama. Lalu seseorang akan duduk di kursinya. Ia mulai bekerja. Cekrek. Rambut jatuh. Ia tersenyum. Karena sekarang ia tahu: gunting itu pernah membawanya pergi. Tetapi ternyata... gunting itu juga yang membawanya pulang. Di pulau-pulau kecil, banyak orang memiliki cerita yang serupa. Ada yang pergi membawa jaring. Ada yang pergi membawa ijazah. Ada yang pergi membawa resep masakan. Ada yang pergi membawa kamera. Ada yang pergi membawa keterampilan tangan. Ada yang pergi hanya dengan keberanian. Mereka bukan pergi karena pulau tidak berarti. Justru karena pulau begitu berarti, mereka ingin suatu hari dapat memberikan sesuatu kembali kepadanya. Sebab anak pulau tidak selalu harus tinggal di pulau untuk mencintai tanah kelahirannya. Kadang ia harus pergi jauh... agar tahu betapa berharganya tempat ia berasal. Laut kembali terlihat dari kejauhan. Ia tetap menjadi laut yang sama. Gelombangnya tidak bertanya siapa yang pergi. Anginnya tidak bertanya siapa yang pulang. Ia hanya terus mengantar. Dan mungkin itulah tugas laut: memisahkan untuk sementara, agar manusia belajar menghargai tempat yang ingin mereka tuju kembali. Sementara di suatu tempat yang jauh dari pulau... sepasang gunting masih bekerja. Memotong rambut. Menyambung hidup. Membayar kebutuhan. Mengumpulkan harapan. Dan setiap kali gunting itu berbunyi— cekrek... seolah ada suara kecil dari pulau yang mengingatkan: “Jangan lupa dari mana kamu berasal.” Karena seorang anak pulau boleh merantau sejauh apa pun. Boleh tinggal di kota mana pun. Boleh menjadi apa pun. Tetapi di suatu tempat di dalam dirinya... selalu ada laut. Selalu ada pelabuhan. Selalu ada kampung. Dan selalu ada sebuah rumah yang diam-diam menunggu: bukan keberhasilannya, tetapi kepulangannya. SAHABAT LOKAL Ada orang yang pergi membawa gunting untuk menyambung hidup. Tanpa ia sadari, setiap helai rambut yang jatuh telah menjadi bagian dari perjalanan menuju pulang. Saloka Sitaro — Sahabat Lokal, Cerita Lokal.

Lihat semua Berita Beranda SahabatLokal

Berita lainnya