Berita
Laut Bukan Tempat Sampah
- Diterbitkan: 11 Agustus 2026
Laut Bukan Tempat Sampah Pagi itu saya berdiri di tepi laut. Tidak ada yang istimewa dari pagi tersebut. Matahari terbit seperti biasanya. Angin membawa aroma asin dari kejauhan. Perahu-perahu kecil bergerak perlahan, meninggalkan garis panjang di permukaan air. Burung-burung terbang rendah, seolah sedang mencari sesuatu di antara riak gelombang. Saya memandang laut cukup lama. Kemudian saya melihat sesuatu mengambang. Sebuah botol plastik. Tidak jauh dari sana ada bungkus makanan. Lalu sebuah kantong plastik. Saya menatap semuanya. Aneh. Laut begitu luas, tetapi sampah itu tetap terlihat. Saya kemudian berpikir: Mengapa manusia selalu menganggap sesuatu yang luas sebagai tempat untuk menyembunyikan kesalahan? Kita sering berkata, “Buang saja ke laut.” Seolah-olah laut tidak memiliki penghuni. Seolah-olah air yang begitu luas tidak memiliki kehidupan. Seolah-olah sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kita berarti sudah tidak ada. Padahal, di bawah permukaan yang kita lihat, ada sebuah dunia yang tidak pernah kita kenal sepenuhnya. Ada ikan yang sedang mencari makan. Ada terumbu yang sedang tumbuh. Ada makhluk-makhluk kecil yang menjalani kehidupannya. Ada telur-telur yang menunggu menetas. Ada kehidupan yang bahkan tidak pernah kita ketahui namanya. Dan mungkin... ada sesuatu yang sedang kehilangan rumahnya karena benda yang kita buang pagi tadi. Bayangkan jika suatu pagi seseorang datang ke rumah kita. Ia membuka pintu. Masuk tanpa izin. Lalu meletakkan sampah di ruang tamu. Hari berikutnya ia datang lagi. Membuang botol. Besoknya lagi kantong plastik. Kemudian sisa makanan. Dan ketika kita bertanya, “Kenapa kau melakukan ini?” Ia menjawab: “Rumahmu luas.” Apakah kita akan menerimanya? Tentu tidak. Lalu mengapa kita melakukan hal yang sama kepada laut? Laut bukan sekadar air. Laut adalah rumah. Bagi ikan. Bagi terumbu karang. Bagi penyu. Bagi berbagai makhluk yang hidup di dalamnya. Dan bagi manusia kepulauan, laut bahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ada orang yang rumahnya menghadap laut. Ada anak yang tumbuh dengan suara ombak. Ada nelayan yang menggantungkan hidupnya pada laut. Ada perahu yang setiap pagi berangkat dari tepian. Ada keluarga yang menunggu seseorang pulang dari laut. Ada makanan yang sampai ke meja makan karena laut. Ada perjalanan yang hanya mungkin dilakukan karena laut. Jadi ketika kita membuang sesuatu ke laut... kita sebenarnya sedang meletakkan sesuatu di halaman rumah orang lain. Bedanya, penghuni rumah itu tidak dapat berbicara seperti kita. Saya melihat seorang anak kecil di pinggir pantai. Ia membawa sebuah botol plastik. Saya kira ia akan membuangnya. Ternyata ia berjalan menuju sebuah tempat sampah. Saya tersenyum. Kemudian ia kembali berlari ke arah laut. Sederhana. Tidak ada pidato. Tidak ada kampanye. Tidak ada kamera. Hanya seorang anak yang mungkin belum mengerti banyak tentang dunia, tetapi sudah tahu satu hal: sampah bukan tempatnya di laut. Saya justru merasa malu. Kadang manusia dewasa memiliki begitu banyak pengetahuan, tetapi kehilangan hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah dipahami seorang anak. Kita sering berbicara tentang menyelamatkan laut. Kita membuat poster. Kita membuat slogan. Kita membuat tulisan. Kita membuat kampanye. Semua itu baik. Tetapi mungkin laut tidak membutuhkan terlalu banyak kata. Mungkin laut hanya membutuhkan kita untuk berhenti melakukan satu hal: berhenti menganggapnya sebagai tempat yang tidak akan peduli terhadap apa pun yang kita buang. Karena laut peduli. Alam selalu memberikan jawaban. Sampah yang kita buang mungkin kembali ke pantai. Ikan yang hidup di laut mungkin memakan sesuatu yang kita tinggalkan. Plastik yang kita anggap kecil bisa berubah menjadi masalah yang jauh lebih besar. Dan pada akhirnya, apa yang kita berikan kepada alam bisa kembali kepada kita melalui jalan yang tidak pernah kita duga. Sore itu saya kembali melihat laut. Airnya tetap bergerak. Ombak datang. Ombak pergi. Seolah laut tidak pernah menyimpan dendam. Itulah mungkin hal yang paling menyedihkan. Kita berkali-kali menyakitinya, tetapi laut tetap memberi. Memberi ikan. Memberi perjalanan. Memberi keindahan. Memberi udara. Memberi kehidupan. Laut tidak pernah berkata, “Karena kalian membuang sampah kepadaku, maka hari ini aku tidak akan memberi apa-apa.” Ia tetap menjalankan tugasnya. Tetapi kebaikan bukan berarti tidak memiliki batas. Ada titik ketika alam tidak lagi mampu memulihkan dirinya sendiri secepat manusia merusaknya. Dan ketika itu terjadi, bukan hanya laut yang kehilangan. Kita juga kehilangan rumah kita sendiri. Mungkin suatu hari nanti, seorang anak akan berdiri di tempat yang sama. Ia melihat laut. Tetapi bukan laut yang kita lihat hari ini. Ia mungkin bertanya kepada orang tuanya: “Dulu laut di sini seperti apa?” Lalu orang tuanya menjawab: “Dulu airnya lebih bersih.” “Dulu ikan lebih banyak.” “Dulu pantainya tidak seperti ini.” Saya tidak ingin cerita itu terjadi. Saya ingin anak-anak di masa depan tetap bisa berdiri di tepi laut dan mendengar suara yang sama. Suara ombak. Suara angin. Suara perahu. Suara kehidupan. Bukan suara plastik yang bergesekan di antara batu. Hari mulai gelap. Saya mengambil satu botol plastik yang tadi terlihat mengambang. Kemudian satu bungkus makanan. Tidak banyak. Hanya beberapa benda kecil. Saya membawanya pergi dari tepian. Laut kembali terlihat bersih. Mungkin tindakan saya tidak akan menyelamatkan seluruh lautan. Saya tahu itu. Tetapi saya juga tahu: rumah tidak dijaga karena satu orang mampu membersihkannya sendirian. Rumah dijaga karena setiap orang yang tinggal di dalamnya merasa bahwa rumah itu adalah miliknya. Dan mungkin... itulah yang selama ini salah. Kita melihat laut sebagai milik semua orang. Sehingga tidak ada yang merasa benar-benar bertanggung jawab. Padahal laut adalah rumah kita bersama. Jika suatu hari sobat berdiri di tepi laut Sitaro... jangan hanya lihat luasnya. Jangan hanya lihat birunya. Jangan hanya lihat indahnya. Coba lihat kehidupan yang ada di baliknya. Lihat perahu yang menunggu nelayan. Lihat ikan yang tidak terlihat dari permukaan. Lihat anak-anak yang bermain di tepian. Lihat keluarga yang menunggu kepulangan. Lihat kampung yang hidup karena laut. Kemudian tanyakan kepada diri sendiri: “Jika laut adalah rumah, apakah saya sudah memperlakukannya seperti rumah saya sendiri?” Mungkin jawabannya tidak perlu kita ucapkan. Cukup kita buktikan dari apa yang kita lakukan setelah membaca cerita ini. Karena laut tidak membutuhkan kita untuk mengaguminya saja. Laut membutuhkan kita untuk menjaganya. Dan mulai hari ini... ketika tangan kita hendak melepaskan sesuatu ke laut, ingatlah satu hal: Laut bukan tempat sampah. Laut adalah tempat tinggal. Tempat jutaan kehidupan dilahirkan, tumbuh, dan pulang. Dan selama kita masih menyebut bumi ini sebagai rumah... jangan jadikan rumah itu tempat kita membuang apa yang tidak kita inginkan. SAHABAT LOKAL Cerita tentang tempat yang mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia. Saloka Sitaro — Sahabat Lokal, Cerita Lokal.
Berita lainnya
- Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro Salurkan Air Bersih Dalam Rangka Penanganan Kekeringan dan Rawan Air
- Oma Abo, Penjaga Cita Rasa Halua Kenari Khas Sitaro yang Tetap Bertahan dari Generasi ke Generasi
- Plt. Bupati Kepulauan Sitaro Pimpin Penanaman 1.100 Pohon Mangrove di Pantai Kampung Kapeta
- Makna dari Sebuah Perhitungan
- SAHABAT LOKAL PART I
- Gunting yang Membawa Pulang Sebuah Nama