Kembali SahabatLokal Sitaro

Berita

SAHABAT LOKAL PART I

SAHABAT LOKAL PART I

SAHABAT LOKAL PART I Di Boulivart Pehe, Menyaksikan Laut, Manusia, dan Kehidupan yang Terus Berjalan SIAU — Siang itu, perjalanan dimulai dari Kota Ondong menuju Ulu, Siau Timur. Perjalanan yang awalnya hanya menjadi bagian dari aktivitas biasa, tiba-tiba berubah menjadi sebuah kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat lebih dekat kehidupan masyarakat di sepanjang pesisir Siau. Di tengah perjalanan, langkah pun terhenti di Boulivart Kampung Pehe. Bukan karena ada sesuatu yang mengharuskan untuk berhenti, tetapi karena suasana di tempat itu seolah mengajak siapa pun untuk sejenak menepi. Musim kemarau yang panjang masih terasa. Matahari menyinari pesisir, sementara angin bertiup cukup kencang dari arah laut. Desiran angin terdengar bersahutan dengan suara gelombang yang menghantam tepian pantai. Laut seakan sedang bernyanyi dengan iramanya sendiri. Di tempat itu, kehidupan masyarakat lokal terlihat begitu nyata. Ada warga yang sedang memperbaiki perahu. Ada yang sibuk mempersiapkan jala dan perlengkapan untuk melaut. Sebagian lainnya terlihat mempersiapkan keberangkatan, memastikan segala sesuatu yang dibutuhkan sudah berada di tempatnya. Tidak ada panggung. Tidak ada pertunjukan. Namun, dari tempat berhenti itu, kehidupan masyarakat pesisir seperti sebuah cerita yang berjalan dengan sendirinya. Pehe dan Aktivitas Pelabuhan Dari kejauhan, terlihat Pelabuhan Pehe yang menjadi salah satu titik penting aktivitas transportasi laut masyarakat Sitaro. Sebelumnya, aktivitas pemberhentian kapal penumpang menuju wilayah Ulu Siau dilakukan di Pelabuhan Ulu. Namun kondisi angin yang cukup kencang membuat operasional pemberhentian kapal dialihkan ke Pelabuhan Pehe. Kapal-kapal penumpang tampak berjejer di pelabuhan. Sebagian menunggu jadwal keberangkatan, sementara aktivitas warga di sekitar pelabuhan terus berlangsung. Di tengah kondisi laut dan angin yang tidak selalu bersahabat, masyarakat tetap menjalankan aktivitasnya. Bagi mereka, laut bukan sekadar pemandangan. Laut adalah tempat mencari kehidupan. Laut adalah perjalanan. Laut adalah ruang yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kepulauan. Ketika Gunung Karangetang Berdiri Megah Namun, ada satu pemandangan yang membuat perjalanan siang itu terasa semakin istimewa. Dari kejauhan, Gunung Karangetang tampak berdiri megah. Gunung, laut, perahu, pelabuhan, angin, dan aktivitas manusia seakan berada dalam satu bingkai yang sempurna. Mata seolah dimanjakan oleh sebuah pemandangan yang tidak perlu dibuat-buat. Semuanya sudah tersedia secara alami. Gunung berdiri pada tempatnya. Laut bergerak dengan iramanya. Angin berembus sesuai waktunya. Perahu menunggu pemiliknya. Nelayan mempersiapkan jala. Kapal menunggu jadwal keberangkatan. Dan manusia terus menjalani kehidupannya. Semuanya bergerak dalam sebuah ekosistem yang sama: alam, manusia, dan seluruh ciptaan Tuhan. Sebuah Pertanyaan yang Muncul di Tengah Perjalanan Namun, di balik keindahan itu, muncul sebuah pertanyaan kecil dalam hati. Apakah semuanya akan baik-baik saja? Apakah kehidupan masyarakat di pesisir ini akan terus berjalan seperti hari ini? Apakah tawa anak-anak yang terdengar di sekitar kampung akan selalu ada? Apakah jala yang sedang dipersiapkan hari ini masih akan terus digunakan untuk menangkap ikan di masa yang akan datang? Apakah perahu-perahu yang hari ini diperbaiki akan tetap membawa para nelayan pulang dengan hasil tangkapan? Dan apakah alam yang hari ini begitu indah akan tetap memberikan ruang bagi manusia untuk hidup berdampingan dengannya? Tidak ada yang benar-benar mengetahui jawabannya. Kita hanya bisa melihat bagaimana kehidupan hari ini berjalan. Sementara hari esok masih menjadi bagian dari perjalanan yang belum kita ketahui. Kemegahan Dunia dan Cara Kerjanya Mungkin, inilah salah satu hal yang sering luput ketika kita sedang terburu-buru. Kita melewati sebuah tempat, melihat laut, melihat orang-orang bekerja, melihat kapal, melihat gunung, lalu melanjutkan perjalanan. Padahal, setiap pemandangan menyimpan cerita. Seorang warga yang memperbaiki perahu sedang mempersiapkan perjalanan berikutnya. Seseorang yang merapikan jala sedang mempersiapkan sumber penghidupan. Kapal yang menunggu di pelabuhan sedang menunggu waktunya membawa orang-orang menuju tujuan. Dan Gunung Karangetang yang berdiri kokoh seakan menjadi saksi bahwa kehidupan manusia telah berlangsung dari waktu ke waktu. Mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan menunggu kita di depan. Takdir, kehidupan, perjalanan, dan pilihan akan membawa kita pada jalan masing-masing. Tetapi satu hal yang dapat kita lakukan adalah menjaga apa yang hari ini masih kita miliki. Menjaga laut. Menjaga alam. Menjaga kehidupan masyarakat pesisir. Dan menjaga cerita-cerita lokal agar tidak hilang ditelan zaman. Karena Sitaro bukan hanya tentang gunung dan laut. Sitaro adalah tentang manusia yang hidup di antaranya. Tentang nelayan yang berangkat ketika angin memungkinkan. Tentang perahu yang menunggu di tepian. Tentang anak-anak yang masih tertawa. Tentang jala yang terus dirajut. Tentang kapal yang datang dan pergi. Tentang keluarga yang menunggu kepulangan. Dan tentang alam yang setiap hari memberikan kita sebuah pelajaran bahwa kehidupan akan terus berjalan, selama kita mampu menjaganya. Siang itu, perjalanan dari Ondong menuju Ulu mungkin hanya sebuah perjalanan biasa. Namun berhenti sejenak di Boulivart Kampung Pehe membuat perjalanan tersebut menjadi lebih dari sekadar perjalanan. Ada laut yang bercerita. Ada angin yang menyapa. Ada manusia yang berjuang. Ada Gunung Karangetang yang menjadi saksi. Dan di antara semuanya, kita hanya sedang menjadi bagian kecil dari kemegahan dunia dan cara kerjanya. Sahabat Lokal Part I — Pehe, Siau. Menemukan cerita bukan hanya dengan bepergian, tetapi dengan berhenti sejenak dan melihat kehidupan di sekitar kita. Saloka Sitaro — Sahabat Lokal, Cerita Lokal.

SAHABAT LOKAL PART I foto 2SAHABAT LOKAL PART I foto 3
Lihat semua Berita Beranda SahabatLokal

Berita lainnya