Kembali SahabatLokal Sitaro

Berita

Makna dari Sebuah Perhitungan

Makna dari Sebuah Perhitungan

Makna dari Sebuah Perhitungan Pagi itu, laut terlihat tenang. Tidak benar-benar diam, sebab selalu ada gelombang kecil yang datang dan pergi. Angin pun bergerak perlahan, menyentuh daun-daun kelapa di sepanjang pesisir. Dari kejauhan, Gunung Karangetang berdiri seperti biasa—kokoh, tinggi, dan seolah tidak pernah terburu-buru mengejar waktu. Saya duduk di sebuah tempat sederhana di tepi kampung. Di hadapan saya ada laut. Di belakang saya ada rumah-rumah warga. Dan di antara keduanya, kehidupan sedang melakukan perhitungannya sendiri. Manusia selalu suka menghitung. Berapa uang yang kita punya. Berapa ikan yang berhasil ditangkap. Berapa kilometer perjalanan yang sudah ditempuh. Berapa banyak pekerjaan yang selesai. Berapa umur kita. Berapa hari yang tersisa sampai akhir bulan. Bahkan terkadang kita menghitung berapa banyak orang yang menyukai kita dan berapa banyak yang tidak. Tetapi pagi itu saya berpikir: Apakah kehidupan memang sesederhana angka? Seorang nelayan mungkin menghitung berapa banyak ikan yang harus diperoleh hari ini agar dapurnya tetap mengepul. Ia menghitung bahan bakar. Ia menghitung waktu. Ia menghitung kekuatan angin. Ia menghitung tinggi gelombang. Tetapi laut tidak pernah memberikan kepastian dalam bentuk angka. Hari ini laut bisa memberikan banyak. Besok mungkin hanya memberikan sedikit. Dan pada hari tertentu, laut justru berkata: “Jangan pergi.” Maka manusia belajar membaca alam. Bukan dengan kalkulator. Melainkan dengan pengalaman. Dengan melihat awan. Dengan merasakan angin. Dengan memperhatikan gelombang. Dengan membaca perubahan warna laut. Itulah perhitungan pertama yang mungkin pernah dilakukan manusia jauh sebelum mengenal angka. Saya melihat seorang anak berjalan di tepi pantai. Ia mengambil sesuatu dari pasir, lalu melemparkannya kembali ke laut. Entah apa yang ia temukan. Mungkin hanya batu. Mungkin kerang. Atau mungkin sesuatu yang bagi orang dewasa tidak memiliki nilai. Anak itu kemudian tertawa. Saya tersenyum. Lalu kembali berpikir tentang perhitungan. Berapa harga sebuah tawa anak? Tidak ada angka yang mampu menjawabnya. Berapa harga udara yang kita hirup? Berapa harga air yang mengalir? Berapa harga teduh pohon kelapa ketika matahari terlalu panas? Berapa harga gunung yang berdiri menjaga keseimbangan tanah dan kehidupan? Berapa harga laut yang setiap hari menjadi jalan, sumber makanan, sekaligus ruang kehidupan bagi masyarakat kepulauan? Kita sering menyebut semua itu sebagai sesuatu yang gratis. Padahal bukan berarti tidak berharga. Mungkin justru karena terlalu berharga, alam tidak pernah mengirimkan tagihan. Siang mulai datang. Angin perlahan menguat. Beberapa perahu terlihat bergerak. Ada yang pergi mencari ikan. Ada yang kembali. Ada yang masih diperbaiki. Setiap orang membawa perhitungannya masing-masing. Seorang ibu menghitung berapa banyak beras yang tersisa. Seorang ayah menghitung biaya sekolah anaknya. Seorang pedagang menghitung hasil dagangannya. Seorang nelayan menghitung apakah hari ini cukup aman untuk pergi melaut. Seorang anak menghitung hari menuju liburan. Dan seseorang yang sedang duduk sendirian mungkin sedang menghitung berapa banyak waktu yang telah ia habiskan untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia butuhkan. Begitulah kehidupan. Kita semua menghitung. Tetapi sering kali kita lupa menghitung hal yang paling penting: waktu bersama keluarga. Kita menghitung uang, tetapi lupa menghitung kesempatan. Kita menghitung keuntungan, tetapi lupa menghitung dampaknya. Kita menghitung apa yang kita dapatkan dari alam, tetapi lupa menghitung apa yang sudah kita ambil darinya. Kita menghitung berapa banyak yang harus kita miliki, tetapi lupa menghitung berapa banyak yang sebenarnya sudah cukup. Sore menjelang. Gunung Karangetang kembali terlihat dalam cahaya yang berbeda. Saya memandangnya lama. Gunung itu tidak pernah mengejar siapa pun. Ia tidak pernah membandingkan dirinya dengan gunung lain. Ia hanya berdiri. Laut pun demikian. Ia tidak pernah bertanya apakah gelombangnya lebih tinggi dari kemarin. Ia hanya bergerak mengikuti hukum alam. Pohon kelapa juga tidak pernah bertanya kapan harus tumbuh. Ia tumbuh. Pohon pala tidak pernah terburu-buru menjadi besar. Ia menjalani waktunya. Dan manusia? Manusia sering kali justru ingin mengatur semuanya. Kita ingin tahu kapan sukses. Kapan kaya. Kapan bahagia. Kapan mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita ingin semua dapat dihitung. Padahal ada bagian kehidupan yang memang tidak bisa dihitung. Pertemuan. Kehilangan. Cinta. Keluarga. Kesempatan. Doa. Dan mungkin juga... takdir. Malam mulai turun di kampung. Suara laut masih terdengar. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu demi satu. Saya akhirnya memahami sesuatu. Perhitungan bukan hanya tentang angka. Perhitungan adalah cara manusia mencoba memahami kehidupan. Tetapi alam mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dipahami dengan angka. Ada kehidupan yang harus dirasakan. Ada alam yang harus dihormati. Ada waktu yang harus dinikmati. Dan ada perjalanan yang harus dijalani tanpa terlalu sibuk bertanya kapan akan sampai. Mungkin, pada akhirnya, kehidupan memang memiliki rumusnya sendiri. Manusia mengambil. Alam memberi. Manusia menggunakan. Alam memperbarui. Manusia lupa. Alam mengingatkan. Dan ketika keseimbangannya terganggu, kehidupan akan memberikan jawabannya. Bukan selalu dalam bentuk kata-kata. Kadang melalui angin. Kadang melalui gelombang. Kadang melalui kemarau yang panjang. Kadang melalui hujan. Kadang melalui gunung yang bergemuruh. Alam tidak sedang marah. Mungkin alam hanya sedang berbicara dengan bahasa yang sudah lama kita lupakan. Saya berdiri dan memandang laut untuk terakhir kalinya hari itu. Di dalam kepala, sebuah pertanyaan kembali muncul: Jika seluruh hidup kita adalah sebuah perhitungan, apa yang sebenarnya ingin kita hitung? Jumlah harta? Jumlah keberhasilan? Jumlah perjalanan? Jumlah orang yang mengenal kita? Atau... berapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan? Mungkin suatu hari nanti, ketika semua angka sudah tidak lagi penting, yang tersisa hanyalah cerita. Cerita tentang seseorang yang pernah membantu. Tentang keluarga yang pernah tertawa bersama. Tentang laut yang pernah menemani perjalanan. Tentang gunung yang pernah kita pandangi. Tentang kampung yang pernah kita tinggali. Tentang alam yang pernah kita jaga. Dan tentang kehidupan yang pernah kita jalani dengan sebaik-baiknya. Karena ternyata... perhitungan terbesar dalam kehidupan bukanlah berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan berapa banyak yang masih bisa kita syukuri. Di Sitaro, laut terus bergerak. Gunung tetap berdiri. Pohon tetap tumbuh. Manusia terus berjalan. Dan kehidupan... terus menghitung dirinya sendiri. Sahabat Lokal — sebuah cerita tentang tempat, manusia, alam, dan makna yang sering kita temukan ketika berhenti sejenak dari perjalanan.

Lihat semua Berita Beranda SahabatLokal

Berita lainnya