Pariwisata & Kebudayaan
Perkebunan Pala Kampung Beong dan berbagai kawasan perkebunan pala di pulau Siau.
- Jenis: ODTW — Objek & Daya Tarik Wisata
- Kelompok: ODTW Agroforestry
- Foto: Dokumentasi DisparBud_Sitaro
Lokasi : Perkebunan Pala Kampung Beong dan berbagai kawasan perkebunan pala di pulau Siau. Sekitar ± 15 km atau dapat dicapai dengan waktu tempuh sekitar 40 menit dengan menggunakan kendaraan roda empat dari Pelabuhan Ulu, Siau. Daya tarik : Pala Walk (berjalan-jalan di kawasan perkebunan pala rakyat sambil melihat langsung proses kegiatan petani pala tradisional dari mulai memetik buah pala, membelah dan memisahkan biji pala dari dagingnya, sampai menjemur biji dan fuli di pekarangan rumah). Obyek wisata lain terdekat : Akesio dan Batu Siau. Keterangan : Kalau anda memandang pulau Siau dari arah laut, maka tersajilah hamparan tanaman Pala yang hampir memenuhi seantero lahan yang ada di pegunungan pulau ini. Tanaman Pala (myristica fragrance) merupakan tanaman asli Indonesia, sudah terkenal sebagai tanaman rempah sejak abad ke-16. Tanaman ini berasal dari Maluku (secara spesifik dari Pulau Banda), yang merupakan pusat asal tanaman pala dengan keragaman jenis yang tinggi (± 200 species untuk family myristicaceae). Pala jenis myristica fragrance disebut juga sebagai pala asli atau nutmeg tree. Pala jenis inilah yang umumnya dibudidayakan di Indonesia, India, Grenada dan Srilanka sebab kualitas biji dan fulinya adalah yang terbaik. Tahun 1600 perusahaan dagang Hindia Belanda – VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) menguasai perdagangan tanaman rempah-rempah di Maluku. Tanaman pala kemudian dikembangkan ke daerah lain seperti Minahasa dan Kepulauan Sangir Talaud, Sumatera Barat serta Bengkulu, kemudian menyusul Jawa, Aceh dan Lampung. Sampai saat ini Indonesia merupakan produsen terbesar di dunia (70-75%), dan dari jumlah itu sekitar 60% dihasilkan oleh Pulau Siau. Negara produsen lainnya adalah Grenada (20%), kemudian selebihnya adalah India, Srilanka dan Malaysia. Harga pala Indonesia di pasar dunia saat ini mulai bersaing ketat dengan harga pala dari Grenada di mana sebelumnya ada kekhawatiran bahwa mutu pala Indonesia menurun karena tersusupi hama flavotoxin akibat cara pengelolaan yang kurang teliti, serta masih belum dikuasainya sistem perdagangan luar negeri. Padahal pala Indonesia dipuji karena mempunyai aroma yang lebih baik dari pala yang dihasilkan negara lain. Tetapi secara bertahap pala Indonesia khususnya komoditas pala dari pulau Siau mulai terkenal dan menjadi primadona sebagai pala terbaik dunia. Komoditas pala memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia, di mana berbagai bagian pada tanaman pala menghasilkan sejumlah kegunaan yang membuatnya memiliki nilai ekonomis sehingga bisa dijual di pasaran. Adapun hasil yang diambil dari tanaman pala yang diperdagangkan di pasaran dunia adalah : biji, fuli, minyak pala/minyak atsiri, daging buah. Biji dan fuli digunakan dalam industri pengawetan ikan, pembuatan sosis, makanan kaleng, dan sebagai adonan kue, di mana minyak atsiri dan lemak yang dikandungnya dapat memberikan atau meningkatkan aroma merangsang nafsu makan. Minyak pala dari hasil penyulingan merupakan bahan baku industri obat-obatan, pembuatan sabun, parfum, dan sebagainya. Selain itu dari biji dan fuli pala juga dapat dibuat oleoresin dan mentega pala. Sedangkan daging buah pala banyak digunakan untuk industri makanan di dalam negeri, misalnya untuk dibuat manisan atau asinan pala, sari buah pala, selai pala, syrup pala, anggur pala (wine dari pala), chutney, jelly bahkan permen pala. Cara masyarakat Kampung Beong menilai saat pohon pala sudah bisa dipanen adalah dengan melihat apabila sebagian buah pala dari suatu pohon sudah merekah. Cara masyarakat memanen buah pala antara lain : dengan menggunakan galah yang pada bagian ujungnya diberi keranjang; dengan cara memetik langsung, yaitu dengan menaiki batang dan memilih buah-buah yang telah betul-betul tua; atau dengan cara memungut buah pala yang jatuh ke tanah karena masak. Sebenarnya panen yang memberikan kualitas produk pala terbaik adalah jika buah pala itu jatuh sendiri ke tanah karena sudah matang. Karena itu, pada jaman raja-raja masih berkuasa di Pulau Siau dulu pernah berlaku aturan yang melarang masyarakat memanen pala kecuali buah pala itu jatuh sendiri dari panen (masak maksimal). Sistem ini mampu menjamin kualitas pala Siau menjadi yang terbaik di dunia. Tetapi sekarang cara ini menghadapi tantangan yaitu desakan kebutuhan ekonomi keluarga sehingga panen dipercepat dengan cara petik langsung, juga kekhawatiran akan didahului oleh pencuri pala jika harus menunggu pala masak jatuh dari pohon. Buah yang telah dipetik segera dibelah, dipisahkan daging buah, biji dan fulinya. Dari buah pala segar, umumnya dihasilkan daging buah sebanyak 83,3 %, fuli 3,22 %, tempurung biji 3,94 %, dan daging biji sebanyak 9,54 %. Biasanya biji dan fuli segera dibawa pulang oleh masyarakat. Untuk bisa menjadi komoditas yang siap jual, hasil panen pala masih harus diolah dulu. Masyarakat Kampung Mini sampai saat ini umumnya hanya mengolah biji dan fulinya. Proses pengolahan dimulai dengan melepaskan biji dari dagingnya, kemudian fuli yang membungkus tempurung biji dilepas dengan cara memipil mulai dari ujung. Kemudian terhadap biji dan fuli dilakukan proses pengeringan untuk mencapai tingkat kandungan air yang dipersyaratkan oleh pedagang. Masyarakat Kampung Beong umumnya masih melakukan proses pengeringan dengan cara yang tradisional, yaitu menjemur di bawah sinar matahari dengan memakai alas tikar atau lantai semen. Masih belum ada yang menggunakan alat pengering.
